𝕂𝔼𝔹𝔸𝕂𝕋𝕀𝔸ℕ 𝕌𝕋𝔸𝕄𝔸 𝕄𝕀ℕ𝔾𝔾𝕌 - 𝔼𝕥𝕟𝕚𝕤 𝕊𝕒𝕓𝕦 - 𝕁𝕖𝕞𝕒𝕒𝕥 𝔾𝕦𝕟𝕦𝕟𝕘 𝕊𝕚𝕟𝕒𝕚 ℕ𝕒𝕚𝕜𝕠𝕝𝕒𝕟 (Minggu, 17 Mei 2026)
𝕻𝖊𝖑𝖆𝖞𝖆𝖓 𝕱𝖎𝖗𝖒𝖆𝖓 & 𝕻𝖗𝖊𝖘𝖇𝖎𝖙𝖊𝖗
🅺🆄🅼 𝗜 = Pdt. Merah Dewi A. Leky, S.Th. (Pelayanan Jemaat HOREB Perumnas)
& Presbiter Rayon 3
🅺🆄🅼 𝗜𝗜 = 𝘊𝘢𝘷𝘪𝘬. 𝘔𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘪 𝘏. 𝘛𝘢𝘮𝘦𝘭𝘢𝘣, 𝘚.𝘚𝘪.𝘛𝘦𝘰𝘭.
& Presbiter Rayon 9
𝕻𝖊𝖒𝖇𝖆𝖈𝖆𝖆𝖓 𝕬𝖑𝖐𝖎𝖙𝖆𝖇:
Kisah Para Rasul 1:12-14 "Rasul-rasul menanti-nanti"
𝕿𝖊𝖒𝖆:
"Karya Roh Kudus dalam keragaman budaya: memperjuangkan budaya yang menyembuhkan luka"
𝕿𝖊𝖒𝖆 𝕶𝖍𝖔𝖙𝖇𝖆𝖍:
"Persekutuan yang memulihkan: menanti dengan sehati"
---------------------------------------------------
Henge'do menjadi salah satu nilai budaya yang dipegang kuat oleh orang Sabu. Henge'do adalah adalah tradisi cium hidung yang melambangkan keakraban & persaudaraan. Henge'do adalah cara menyambut orang lain dengan cinta & kasih.
Henge'do sama dengan menyapa orang lain tanpa memandang jenis kelamin, status, strata sosial serta usia. Henge'do dapat dilakukan oleh siapa saja. Henge'do melambangkan tanda penghormatan & saling menerima satu sama lain sebagai saudara. Henge'do adalah wujud menjaga & memulihkan relasi. Henge'do adalah bentuk keakraban yang mengikat. Henge'do merupakan refleksi nyata dari sebuah persekutuan yang memulihkan, dimana setiap individu diajak untuk menanti dengan hati yang penuh ketulusan.
Hidung yang bersentuhan membuat saling menatap & mendekatkan wajah, tanda tembok pemisah diruntuhkan. Henge'do menunjukkan bahwa pemulihan sebuah persekutuan tidak dimulai dari kata-kata yang muluk melainkan dari ketulusan hati yang menanti dengan kerendahan hati untuk saling merangkul. .....[Renungan Awal - Liturgi KUM Etnis Sabu - Minggu, 17 Mei 2026]
---------------------------------------------------
𝕻𝖊𝖘𝖆𝖓 𝕱𝖎𝖗𝖒𝖆𝖓:
Pada masa penantian 10 hari sebelum keturunan Roh Kudus:
¹. Jangan menarik diri ketika kita "terluka". Pandanglah gereja sebagai tempat/sarana pemulihan bagi setiap jiwa yang lelah bukan penghakiman.
². Bangunlah jembatan ketika ada perbedaan bukan membangun tembok penghakiman dengan sesama. Pulihkan & perbaiki relasi yang rusak di antara Kita; suami-isteri, orang tua-anak, dsb.
³. Mengubah gosip menjadi doa. Bertekunlah dalam doa ketika kita berada di dalam keluh kesah, patah hati, kesulitan, dsb. Karena kekuatan doa melepaskan kecemasan & memberi kekuatan serta damai sejahtera.
---------------------------------------------------
....kita telah diingatkan oleh Firman tentang para murid yang kembali, berkumpul, & bertekun dengan sehati dalam doa. Dalam kebersamaan itu, mereka tidak berjalan sendiri, mereka menanti, menguatkan, & dipersiapkan oleh Tuhan untuk karya yang lebih besar. Demikian juga kita, yang hari ini telah mengalami persekutuan yang memulihkan.
Maka pergilah dengan keyakinan ini: bahwa kita dipanggil untuk tetap hidup dalam kebersamaan, bertekun dalam doa, & saling menguatkan sebagai satu tubuh dalam Kristus. Bawalah damai yang telah kita terima, hadirkan kasih yang telah kita rasakan, & jadilah persekutuan yang memulihkan di tengah dunia. Pergilah dalam damai Tuhan, hiduplah dalam sehati & sepikir, & tetaplah setia bertekun dalam doa. ...... [Pengutusan - Liturgi KUM - Minggu, 17 Mei 2026]










0 comments:
Posting Komentar